EFEK ISOFLAVON
KEDELAI (Glycine max) TERHADAP KADAR TESTOSTERON DAN BERAT VESIKULA
SEMINALIS TIKUS JANTAN Sprague
dawley
Jont Marson1, Sri Nita2, Theodorus3, dan
Joko Marwoto2
1. Poltekes
Kemenkes Palembang Jurusan Gizi, Jl. Sukabangun I Km 6,5 Palembang Indonesia
2. Bagian Biologi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang
Indonesia
3. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang
Indonesia
jontmarson@yahoo.co.id
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
isoflavon terhadap kadar hormon testosteron dan berat vesikula seminalis pada
tikus jantan Sprague dawley. Studi eksperimental in vivo ini menggunakan rancangan post-test only group design.
Sampel terdiri dari 24 ekor tikus yang dibagi ke dalam 4 kelompok yaitu kelompok 1 (kontrol), kelompok 2, 3 dan kelompok 4. Kelompok perlakuan
diberikan isoflavon dengan dosis masing-masing 2,52 mg, 3,78mg dan 5,04mg
diberikan peroral selama 48 hari. Kemudian tikus diambil darah dan vesikula seminalisnya.
Dilanjutkan dengan pengukuran kadar hormone testosterone dan berat vesikula
seminalis. Analisa dilakukan dengan One Way ANOVA dan dilanjutkan dengan
uji Multiple Comparison jenis Bonferroni. Semua analisa menggunakan SPSS versi 16. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dari hasil uji Post Hoc
Bonferroni antara kontrol negatif dan kelompok 2 dosis isoflavon 2,52 mg
dengan nilai p=0,631 untuk kadar testosteron dan p=0,873 untuk berat vesikula
seminalis berarti pada dosis ini belum menunjukkan penurunan kadar hormon
testosteron dan berat vesikula seminalis. Antara kontrol negatif dan kelompok 3
dosis isoflavon dengan nilai p=0,01 untuk kadar testosteron dan p˂0,05 untuk berat vesikula seminalis
berarti telah menunjukkan penurunan yang signifikan. Disimpulkan bahwa terdapat
pengaruh pemberian isoflavon kedelai terhadap kadar hormon testosteron dan
berat vesikula seminalis tikus putih jantan (Rattus norvegicus).
Kata
Kunci: Isoflavon
Kedelai, Kadar Hormon Testosteron, Berat Vesikula Seminalis
THE EFFECT OF SOY ISOFLAVONE (Glycine
max) ON TESTOSTERONE LEVEL AND SEMINAL
VESICLE WEIGHT OF RAT
MALE Sprague
dawley
ABSTRACT
Aim of this study was to determine the efficacy of
soybean isoflavone on testosterone hormone level and seminal vesicle on Sprague Dawley male rat. This in vivo experimental
study was used post-test only group design. The sample consisted of 24 rats were divided into 4 groups:
group 1 (control),
group 2, group
3 and 4. Isoflavone treatment group was given with each
dose of 2.52 mg, 3.78 mg, and 5.04 mg administered orally
for 48 days. Then
the rat blood and seminal vesicles was taken. These followed by
measurement of testosterone levels
and seminal vesicles
weight. Analysis performed
by one
way ANOVA
and continued with Multiple Comparision test typed Benferroni. All
analyzes using SPSS version 16. Results showed that of
the post hoc Bonferroni test between
the control & group 2 with doses of
isoflavones 2.52 mg have p = 0.631 for testosterone levels and p = 0.873 for seminal
vesicles weight means
that at these doses have not
shown decreased levels of testosterone
and seminal vesicle weight. Between the negative control and 3-dose isoflavone group
with p = 0.01 for testosterone levels and p
<0.05 for seminal vesicle weight means that have shown a significant
decline. It
could be concluded
that soy isoflavone have effect on level of testosterone and seminal vesicle
weight of white male rats (Rattus
norvegicus)
Key Words: Soybean Isoflavone, Hormone Levels of Testosterone, Vesicula Seminalis
Weight.
PENDAHULUAN
Kedelai salah
satu komoditi pangan utama setelah padi dan jagung. Produk olahan kedelai yang
paling banyak dikonsumsi oleh penduduk Indonesia golongan menengah dan bawah
adalah tahu dan tempe. Kedelai
mengandung isoflavon yang
merupakan salah satu senyawa fitokimia (Muchtadi, 2010). Kandungan isoflavon
pada kedelai berkisar 2-4 mg/g kedelai (Winarsi, 2005).
Isoflavon sering disebut sebagai
fitoestrogen atau estrogen nabati karena mempunyai struktur hampir sama dengan
estrogen (Schmidl & Labuza, 2000). Isoflavon dapat berikatan dengan
receptor estrogen di hipofisis anterior untuk menghambat pengeluran Follicle
Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH). Penghambatan ini berakibat testosteron dalam
darah menurun.
Jumlah sel spermatogenik sangat
tergantung pada aktivitas tubuli seminiferi yang dipengaruhi oleh sistem
hormon, sehingga faktor endokrin mempunyai efek paling penting terhadap
spermatogenesis. Testosteron yang disintesis sel Leydig diperlukan untuk
berlangsungnya proses spermatogenesis pada tubuli seminiferi (Junqueira & Carneiro,
1995). Proses spermatogenesis dipengaruhi oleh hormon-hormon yang dihasilkan
oleh organ hipothalamus, hipofise dan testis sendiri. Hormon yang terlibat
adalah testosteron, hormon lutein (LH), hormon perangsang folikel (FSH: follicle stimulating hormone), estrogen,
dan hormon pertumbuhan lainnya (Rosenfiel
& Fathalla, 1997; Speroff, Glass & Kase, 1999).
Hipotalamus mensekresi Gonadotropin-Releasing
Hormon (GnRH), yang akan menstimuli hipofisis anterior untuk mensekresi LH
maupun FSH. LH berikatan dengan reseptor spesifik pada membran sel Leydig yang
berlanjut dengan sekresi androgen. FSH terikat reseptor spesifik pada sel Sertoli
di tubulus seminiferus. Molekul androgen akan berikatan dengan reseptor
androgen khusus yang ada di sitoplasma sel Sertoli, kompleks reseptor androgen
tersebut kemudian ditranslokasi ke dalam inti dan berikatan dengan daerah
tertentu dalam kromatin. Melalui proses yang terjadi dalam inti, akhirnya
dihasilkan mRNA untuk sintesis protein, yang selanjutnya menghasilkan Androgen Binding Protein (Zaneveld &
Chatterton, 1982). Pengaruh testosteron terhadap sel Sertoli adalah untuk
pematangan sel Sertoli dan sintesis ABP (Hadley, 1992).
Vesikula seminalis merupakan
organ asesoris reproduksi hewan jantan yang bersifat androgen dependent yaitu fungsinya yang tergantung pada ada
tidaknya androgen dalam tubuh. Androgen adalah nama untuk kelompok steroid,
alamiah dan sintetik (Neischlag, 1996). Testosteron adalah principal
testiscular androgen (Johnson & Everitt, 1988). Sintesis androgen membutuhkan
konversi dari kolesterol menjadi testosterone (Neischlag, 1996). Jika kadar
testosteron rendah sel-sel vesikula seminalis terjadi atropi dan keseluruhan
kelenjar akan menjadi kecil sehingga vesikula seminalis dalam mengeluarkan
semen terjadi penurunan (Yatim, 1994).
Peneliti lain menuliskan bahwa
terjadi penurunan berat vesikula seminalis dan prostat setelah pemberian isolat
mangostin yang dapat disebabkan oleh penurunan hormon testosterone (Nita, 2003).
Baik perkembangan maupun fungsi kedua organ ini bergantung pada hormon
testosteron. Bila kedua organ ini kekurangan hormon testosteron maka aktifitas
sekretorisnya akan terganggu dan sel-sel epitelnya mengalami penyusutan (Johnson
& Everitt, 1988).
Sebagai salah satu sumber pangan
setelah padi dan jagung yang banyak dikonsunsi masyarakat Indonesia maka peneliti
bermaksud untuk melihat pengaruh isoflavon kedelai terhadap kadar hormon
testosteron dan berat vesikula seminalis pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) karena kedelai dan
produknya mengandung isoflavon.
.
METODE
PENELITIAN
Persiapan Bahan
& Hewan Uji
Bahan uji berupa kacang kedelai yang
dihdrolisis untuk menghasilkan isoflavon yang lebih banyak dan dilakukan uji
KLT (Kromatografi Lapis Tipis) yang memperlihatkan hanya senyawa
isoflavon yang diekstrak.
Hewan uji yang
digunakan dalam penelitian ini adalah tikus putih jantan (Rattus norvegicus)
strain Sprague Dawley berumur 3-4
bulan sebanyak 24 ekor dan dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan.
Pelaksanaan Penelitian
Ekstrak kedelai diberikan secara oral dengan dosis 2,52 mg, 3,78 mg
dan 5,04 mg selama 48 hari. Hari ke 49 tikus dikorbankan dengan cara dislokasi
leher, kemudian diambil darah dari jantung. Selanjutnya darah di sentrifus
5000 rpm. Cairan bening yang merupakan
serum darah kemudian dianalisis untuk mengetahui kadar hormon testosteron
dengan metode ECLIA. Selain itu assesoris organ reproduksi yaitu vesikula
seminalis diambil dan dibersihkan
dalam larutan NaCl
0,9% sampai lemak
yang menempel pada organ tersebut hilang, kemudian dikeringkan dengan
kertas saring dan di timbang dengan
timbangan analitik sartorius
dengan ketelitian 0,001g.
HASIL
PENELITIAN
Hasil Uji KLT
Pengujian KLT dilakukan untuk menguji senyawa yang
terkandung di dalam hasil hidrolisis kacang kedelai. Hasil uji KLT (Gambar 1.)
memperlihatkan hanya keluar warna krem yang berarti hasil hidrolisis kacang
kedelai hanya mengandung senyawa golongan flavonoid.
Gambar
1. Golongan senyawa flavonoid sebagai hasil uji KLT dari hidrololisis kacang
kedelai
Hasil Uji
Homogenitas
Berdasarkan Tabel 1 didapatkan
hasil uji homegenitas terhadap berat badan tikus dengan nilai p sebesar 0,399, dan hasil uji
homegenitas terhadap umur tikus dengan nilai p sebesar 0,714 yang
artinya sampel homogen dan syarat eksperimental terpenuhi, sehingga dapat
dilanjutkan dengan uji berikutnya.
Tabel
1. Hasil Uji Homogenitas terhadap Berat Badan dan Umur Tikus Jantan Sprague
Dawley
Variabel
|
P
|
Berat Badan
(gr)
|
0,399
|
Umur (bulan)
|
0,714
|
Levene Test
Kadar
Testosteron
Berdasarkan Tabel 2 didapatkan
bahwa terdapat penurunan rata-rata kadar testosteron tikus putih jantan antara K1
dengan K2, K3, dan K4 yang diberi ekstrak kedelai dan diperoleh nilai p
sebesar 0.000, yang berarti ada pengaruh pemberian ekstrak kedelai terhadap kadar
testosteron. Untuk melihat signifikasi antara kelompok perlakuan maka
dilanjutkan dengan uji Post Hoc Bonferroni.
Tabel 2. Hasil Uji Pengaruh
Pemberian Ekstrak Kedelai terhadap Kadar Testosteron (ng/l) Tikus Jantan Sprague
Dawley
Kelompok
|
Mean (ng/l) +
SD
|
p
|
K1 (kontrol)
|
5,550 ± 0,008
|
0,000
|
K2 (2,52 mg)
|
5,540 ± 0,008
|
|
K3 (3,78 mg)
|
5,523 ± 0,005
|
|
K4 (5,04 mg)
|
5,470 ± 0,014
|
ANOVA
Test
Gambar
2. Rerata Kadar Testosteron pada
Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan.
Berat Vesikula
Seminalis
Berdasarkan Tabel 3 didapatkan
bahwa terdapat peningkatan rata-rata berat
vesikula seminalis tikus putih jantan antara K1 dengan K2, K3, dan K4 yang
diberi ekstrak kedelai dan diperoleh nilai p sebesar 0,000 yang berarti
ada pengaruh pemberian ekstrak kedelai terhadap persentase morfologi abnormal spermatozoa.
Untuk melihat signifikasi antara kelompok perlakuan maka dilanjutkan dengan uji
Post Hoc Bonferroni.
Tabel 3. Hasil Uji Pengaruh
Pemberian Ekstrak Kedelai terhadap Berat Vesikula Seminalis (g) Tikus Jantan Sprague
Dawley
Kelompok
|
Mean (g) +
SD
|
p
|
K1 (kontrol)
|
1,850 ± 0,008
|
0,000
|
K2 (2,52 mg)
|
1,841 ± 0,007
|
|
K3 (3,78 mg)
|
1,823 ± 0,005
|
|
K4 (5,04 mg)
|
1,770 ± 0,014
|
ANOVA
Test
Dari gambar 2. diketahui bahwa
antara K1 dengan K2 menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan (p>0,05),
sedangkan antara K1 dengan K3, antara K1 dengan K4, antara K2 dengan K3, antara
K2 dengan K4, dan antara K3 dengan K4 menunjukkan adanya perbedaan yang
signifikan (p>0,05).
a=p<0,005
b=p>0,05
Gambar
3. Rerata Berat Vesikula Seminalis pada
Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan
Gambar 4. Vesikula Seminalis Tikus Jantan Sprague Dawley Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan
PEMBAHASAN
Kadar
testosteron akibat pemberian isoflavon kedelai.
Analisa data hasil
eksperimental in vivo diatas
membuktikan bahwa ada pengaruh signifikan pemberian isoflavon kedelai (Glycine max) terhadap kadar hormon
testosteron dalam darah tikus jantan Sprague
Dawley. Peneliti lain juga menyatakan bahwa kadar hormon
testosteron mengalami penurunan sesuai dengan makin tinggi dosis isoflavon yang
diberikan pada tikus (Wahyuni, 2012). Hal ini
disebabkan senyawa isoflavon
bersifat estrogen like dan juga bersifat antiandrogenik. Artinya
Isoflavon dapat bekerja dengan cara meniru kerja estrogen, sehingga isoflavon
dapat berikatan dengan reseptor estrogen
pada hipofisis anterior. Menurunnya konsentrasi hormon testosteron yang
disebabkan pemberian estrogen dapat terjadi karena penghambatan terhadap fungsi
hipofisa (Parrott &
Davies, 1979).
Dalam sistem portal
hipotalamus-hipofisis-testis, hipotalamus mensekresikan GnRH untuk merangsang
hipofisis anterior mengeluarkan FSH dan LH, oleh karena isoflavon telah
mengikat reseptor estrogen menyebabkan sekresi FSH dan LH menurun. Produksi LH terhambat, maka
pertumbuhan, pematangan dan jumlah sel Leydig
kemungkinan berkurang sehingga produksi hormon testosteron akan terganggu.
Sel Leydig merupakan tempat
terjadinya proses steroidogenesis yang menghasilkan hormon testosteron, jika
jumlah/fungsinya berkurang maka produksinyapun akan berkurang (Hanum, 2010).
Isoflavon juga menghambat kerja
enzim 17-β-hidroksisteroidoksidorektase, yang diperlukan untuk sintesis hormon
testosteron. Testosteron berasal dari prekursor kolesterol, kolesterol
mengandung 27 atom karbon, setelah hidroksilasi dari kolesterol pada atom C20
dan atom C22 terjadi pemecahan rantai samping menjadi bentuk pregnenolon dan
asam isocaproat, pemecahan ini di samping adanya enzim 20β hidroksilasi dan 22β
hidroksilasi juga adanya peran LH dalam meningkatkan aktivitas enzim (Kuczynski,
1982). Selanjutnya konversi pregnenolon menjadi testosteron membutuhkan
beberapa enzim, yaitu 3β-hidroksisteroid-dehidrogenase, 17α-hidroksilase dan
17-β-hidroksisteroidoksidorektase (Murray et
al., 1997). Berarti dengan demikian jika LH menurun maka pemecahan rantai
samping menjadi bentuk pregnenolon dan asam isocaproat akan terganggu sehingga
pregnenolon tidak terbentuk dan selanjutnya testosteronpun tidak terbentuk.
Begitu juga dengan gangguan pada enzim 17-β-hidroksisterodoksidorektase,
meskipun pregnenolon terbentuk namun tidak dapat dikonversi menjadi testosteron
Berat
vesikula seminalis akibat pemberian isoflavon kedelai.
Dari analisa data hasil
penelitian diatas diketahui bahwa ada pengaruh signifikan pemberian isoflavon
kedelai (Glycine max) terhadap berat
vesikula seminalis tikus jantan Sprague
Dawley. Hal ini disebabkan
oleh pemberian isoflavon pada dosis tinggi yang mengakibatkan terhambatnya
perkembangan sel Leydig atau
berkurangnya jumlah sel Leydig yang
disebabkan oleh sekresi LH yang terhambat akibat efek anti androgenik dari
isoflavon, sehingga menyebabkan penurunan kadar testosteron. Isoflavon
yang berikatan dengan reseptor estrogen, akan menghambat kerja hipofisis
anterior dalam mensekresikan FSH dan LH. Penurunan produksi LH akan berdampak
pada sekresi testosteron oleh sel Leydig.
Hal ini akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan organ aksesoris dan dapat
menyebabkan atrofi sel dan penurunan berat organ vesikula seminalis (Gambar 3).
Penelitian ini bersesuaian dengan penelitian lain bahwa penurunan berat
vesikula seminalis dan prostat menggambarkan adanya penurunan hormon
testosteron(11), karena
baik perkembangan maupun
fungsi kedua organ ini bergantung pada hormon testosteron(12). Bila kedua organ ini kekurangan hormon ini
maka aktifitas sekretorisnya akan terganggu dan sel-sel epitelnya mengalami
penyusutan. Jika kadar testosteron
rendah, sel-sel organ vesikula seminalis menjadi atrofi dan keseluruhan
kelenjar akan menjadi kecil sehingga fungsi vesikula seminalis dalam sekresi
untuk volume semen, untuk koagulasi dan sumber fruktosa juga terjadi penurunan(9).
KESIMPULAN DAN
SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian tentang pengaruh pemberian isoflavon kedelai (Glycine max) terhadap kadar testosterone
dan berat vesikula seminalis tikus jantan Sprague Dawley dapat
disimpulkan bahwa
1. Terjadi penurunan yang bermakna kadar hormon testosteron dalam darah
tikus jantan Sprague Dawley mulai
pemberian isoflavon kedelai (Glycine max)
dosis 3,78 mg setiap 200 gram berat badan tikus.
2. Pemberian isoflavon kedelai (Glycine
max) mulai dosis 3,78 mg dapat menyebabkan penurunan yang bermakna berat
vesikula seminalis tikus jantan Sprague
Dawley.
Saran
Penulis menyarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut
mengenai efek
isoflavon kedelai (Glycine max)
terhadap kadar Follicle Stimulating
Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone
(LH).
Daftar Acuan
Muchtadi,
D. 2010. Kedelai Komponen Bioaktif untuk Kesehatan. Penerbit Alpabeta. Bandung.
Winarsi,
2005. Isoflavon, Berbagai Sumber, Sifat dan Manfaatnya pada Penyakit Degeneratif. UGM University Press,
Yogyakarta.
Schmidl, M.K,
and T.P Labuza. 2000. Essentials of
Function Foods, Aspen Publishher, Inc,
Gaitherburg, Maryland.
Junqueira, L.C,
dan J. Carneiro, 1995. Basic Histology (Histologi Dasar). Terjemahan oleh Adji Dharma. Edisi Ketiga. Penerbit EGC,
Jakarta.
Rosenfiel, A, and M.A. Fathalla. 1997. Reproductive
physiology. 1:55-69 The Parthenon
publishing group, New Jersey.
Speroff, L., R.H. Glass and N.G. Kase. 1999. Clinical
gynecologic endocrinology and infertility. 6th ed.(page
1075-1096), William and Wilkins, L. Philadelphia.
Zaneveld, L.J.D.
and R.T. Chatterton. 1982, Biochemistery of Mammalian Reproduction, A
Wiley-Interscience Publication, John Wiley and Sons, New York.
Hadley, M.E,
1992. Endocrynology, Prentice-Hall, Inc, Simon dan Schuster Company Englewood.
Neischlag, E,
1996. Testosterone Replacement Therapy. Clinical Endocrinology. 162-261.
Yatim,
W. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito, Bandung. 254-260.
Nita, S. 2003.
Efek Mangostin terhadap kwlitas sperma, epididimis kauda Tikus wistar jantan.
JKK, 35 (3): 553-557.
Johnson, M.H.
& B.J. Everitt. 1988. Essential reproduction.3th ed Blackwell
Sci. Publ. Oxford London Edinburg.
Wahyuni, R.S.
2012. Pengaruh Isoflavon Kedelai terhadap Kadar Hormon Testosteron, Berat
Testis, Diameter Tubulus Seminiferus dan Spermatogenesis Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus) 3(12): 3-4.
Parrott, R.F,
and Davies, R.V. 1979. Serum gonadotrophin levels in prepubertally castrated
male sheep treated for long periods with propionated testosteron,
dihydrotestosteron, 19-hydroxytestosteron or oestradiol. J. Reprod.Fert.56:
543-548.
Hanum, M. 2010.
Biologi Reproduksi. Nuha medika, Yokyakarta.
Kuczynski, H.J,
1982. Fertility Control in the Male, A Development Perspective. In: F.X.A.
Murray, R.K.,
Granner, D.K., Mayes, P.A. and Rodwell,
V.W. 1997. Biokimia Harper ed.25
(alih bahasa Hartono A). Penerbit EGC, Jakarta.
